Tampilkan postingan dengan label Akprind. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Akprind. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 23 Januari 2010

SMA N 1 Purwareja Klampok Bikin Film
















Pada awal tahun 2008 kemarin, SMA N 1 Purwareja Klampok telah selesai membuat 2 film yang sukses mendapatkan penghargaan dari Kabupaten Banjarnegara maupun Provinsi Jawa Tengah. Dan film ini yang pertama di Banjarnegara untuk tingkat SMA.



Film pertama


Diperankan oleh anak – anak XII BAHASA 1, yang berjudul H2C (Hari – Hari yang Ceria).

Ringkasan Cerita H2C ( XII Bahasa 1 )

Cinema ini menceritakan tentang betapa kegiatan belajar masa SMA menyenangkan, mereka saling bersahabat dalam kebersamaan dan keceriaan. Namun diceritakan pula bahwa terkadang dalam persahabaan, kebersamaan mengapa harus ada perbedaan dan perselisihan diantara mereka.
Satu hal yang menyebabkan perselisihan didalamnya adalah ketika tumbuh egoisme untuk merebutkan paujaan hati pada seseorang yang sama-sama didambakan oleh kedua belah pihak. Kemudian kedua pihak tersebut membentuk kelompok yang membelah persahabatan menjadi dua bagian.
Keterus terangan Tokoh yang di dambakan dalam menenukan siapa pilhan hati sesungguhnya antara dua pilihan justru membuka jawaban yang akhirnya menyaukan kembali perpecahan tersebut.




















































H2C ini mengambil lokasi di “Curug Pitu” yang terletak di sebelah timur Kota Banjarnegara.

Bapak Sugeng Widodo, S.Pd sebagai ketua penyelenggara
Bapak Wiwied sebagai editor dan kamera
Bapak AO sebagai kamera
Bapak Anjar Adi Nugraha sebagai editor
Dan pihak – pihak lain yang tidak dapat disebutkan satu persatu.




Film Kedua








































diperankan oleh anak – anak XII. BAHASA 2, dengan judul MMS (Masa – Masa Sekolah)
MMS ini mengambil lokasi di “Curug Ceheng” Purbalinga dan di Stasiun Kereta Api Purwokerto.
























PERPISAHAN ITU AWAL DARI MASA-MASA SMA

Perjalanan antara terminal sampai Setasiun Kereta Api Purwokerto dengan mengendarai taxi, sepasang pemuda itu sangat merasakan betapa detik demi detik waktu merambat mendebarkan jantung hatinya sebagaimana saat-saat berpisah selalu merupakan kepedihan yang mendalam

Sumber http://inspirasigema.blogspot.com/2009/03/sma-n-1-purwareja-klampok-bikin-film.html





Ihwal Pendidikan Seni Kita

Postingan ini sambungan dari AKMR dan Masa Depan Kesenian Riau.
>>Lalu, dalam kondisi serupa itu, saya kira salah satu upaya yang paling ideal dapat dilakukan untuk menjawab tantangan sekaligus membangun masa depan kesenian kita yang lebih terukur adalah dengan masuk ke ranah pendidikan formal. Terukur, karena selain dunia pendidikan memang diselenggarakan secara sistematis, menawarkan program-program reguler yang terjaga kontinuitasnya dalam bentuk kurikulum dengan jangka waktu berjenjang, juga dapat “mengawal” perkembangan proses kreatif dan pemahaman kesenian secara lebih terarah dari generasi ke generasi dengan orientasi melahirkan profesionalisme di bidang seni. Profesional baik sebagai akademisi maupun sebagai seniman.

Dalam konteks pendidikan seni ini, ada dua jalur yang sesuai dengan capaiannya masing-masing. Jalur formal seperti sekolah kejuruan seni dan sekolah tinggi seni, yang mengarah pada profesionalisme seni, dan jalur non-formal seperti sanggar, kursus/pelatihan, atau lembaga/komunitas kesenian, atau pendidikan seni di sekolah-sekolah umum (SD, SLTP, dan SMU) yang lebih mengarah pada pemanfaatan kegiatan seni untuk menumbuhkan kemampuan apresiasi seni dan budaya peserta didik.

Persoalannya kemudian adalah, pendidikan seni di jalur formal (dan juga non-formal) belum mendapatkan “tempat yang seimbang” dibanding dengan lembaga pendidikan formal di bidang non-seni. Ini problem klasik tentang paradigma dan persepsi masyarakat memandang dunia seni itu sendiri, yang ironisnya juga diamini oleh para pengambil kebijakan di bidang pendidikan kita. Pendidikan seni di sekolah-sekolah umum misalnya, tak lebih sekedar jadi kegiatan rekreatif. Setelah penat mengikuti mata pelajaran “serius” lalu disegarkan oleh “kegiatan” seni. Tujuan pendidikan seni yang tertera dalam kurikulum (GBPP 1994) untuk “mengembangkan kemampuan apresiasi dan berkarya kreatif” tentu akan sulit untuk digapai jika arah pembangunan bangsa ini juga tak memungkinkan tersedianya infrastruktur proses belajar-mengajar kesenian yang memadai; mulai dari kurikulum dan sistem pendidikan, sarana prasarana, tenaga pendidik, dan lain-lain.

Hari ini, khusunya sekolah-sekolah di Riau, sesungguhnya telah mulai menyadari betapa kurangnya infrastruktur itu, terutama tenaga pendidik yang profesional. Terbukti, dari sejumlah pengalaman saya melihat dan mendengar (langsung dan tak langsung), tenaga pendidik seni di sekolah-sekolah umum itu ditempati oleh guru-guru dari bidang study yang lain. Beberapa guru bahkan sempat datang pada saya, baik dalam sebuah sesi seminar dan workshop maupun secara pribadi, yang mengeluhkan prihal ini.

Guru-guru ini—karena rasa tanggungjawabnya yang besar sementara kemampuannya yang minim—justru berniat privat pada saya tentang seluk-beluk pengajaran dunia teater baik secara teori maupun praktek. Dan akhirnya, supaya lebih efektif, saya menawarkan solusi untuk “memperbantukan” mahasiswa saya di Akademi Kesenian Melayu Riau (AKMR) sebagai pendampingnya. Bahkan berbagai permintaan dari banyak sekolah umum di sejumlah daerah Riau kepada AKMR untuk mengirimkan alumninya, adalah sebuah kenyataan lain. Kenyataan bahwa, lembaga pendidikan tinggi seni macam AKMR kian dibutuhkan.


Namun begitu, satu hal penting lain yang perlu diluruskan di sini adalah bahwa pendidikan seni itu bukanlah pendidikan instan yang hasilnya dapat segera diketahui. Banyak persepsi semacam ini yang tumbuh di masyarakat kita tersebab minimnya pemahaman dan apresiasi mereka terhadap kesenian. Selain bahwa masyarakat kita juga, telah demikian terbawa arus pragmatisme yang lebih menganut paham efisiensi waktu dan biaya. Padahal, dalam pendidikan seni, mengutip Sofyan Salam (Guru Besar Universitas Negeri Makassar), “diperlukan pemberian pengalaman estetik yang lama dan intensif untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Diakui bahwa pendidikan seni efektif untuk mengembangkan kepekaan rasa estetik dan kekreatifan.” Tapi harus diakui pula, demikian Sofyan menulis, bahwa “pendidikan seni bersifat pendidikan jangka panjang.

Karena itu, dalam konteks jangka pendek, ia dinilai tidak efisien karena (seolah) hasil yang dicapai tak sebanding dengan waktu, biaya, dan tenaga yang digunakan.” Dan rasanya, saya juga harus mengutip kalimat lain dari Sofyan yang bagus ini, “saya menyadari bahwa tidak mudah untuk menumbuhkan apresiasi terhadap pendidikan seni di tengah cengkeraman “pola pemikiran otak-kiri” dalam lingkungan system pendidikan formal kita dewasa ini. Tetapi, upaya penumbuhan apresiasi itu harus dilakukan. Tak ada jalan lain.”(2005).



Sumber http://www.sungaikuantan.com/2009/06/ihwal-pendidikan-seni-kita.html

Pemanfaatan Teknologi Informasi dalam Dunia Pendidikan

Dalam kehidupan suatu negara, pendidikan memegang peranan yang amat penting untuk menjamin kelangsungan hidup negara dan bangsa, karena pendidikan merupakan wahana untuk meningkatkan dan mengembangkan kualitas sumber daya manusia. Seiring dengan perkembangan teknologi komputer dan teknologi informasi, sekolah-sekolah di Indonesia sudah waktunya mengembangkan Sistem Informasi manajemennya agar mampu mengikuti perubahan jaman.
SISKO mampu memberikan kemudahan pihak pengelola menjalankan kegiatannya dan meningkatkan kredibilitas dan akuntabilitas sekolah dimata siswa, orang tua siswa, dan masyakat umumnya.Penerapan teknologi informasi untuk menunjang proses pendidikan telah menjadi kebutuhan bagi lembaga pendidikan di Indonesia. Pemanfaatan teknologi informasi ini sangat dibutuhkan untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas bagi manajemen pendidikan. Keberhasilan dalam peningkatan efisiensi dan produktivitas bagi manajemen pendidikan akan ikut menentukan kelangsungan hidup lembaga pendidikan itu sendiri. Dengan kata lain menunda penerapan teknologi informasi dalam lembaga pendidikan berarti menunda kelancaran pendidikan dalam menghadapi persaingan global.
Pemanfaatan teknologi informasi diperuntukkan bagi peningkatan kinerja lembaga pendidikan dalam upayanya meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia Indonesia. Guru dan pengurus sekolah tidak lagi disibukkan oleh pekerjaan-pekerjaan operasional, yang sesungguhnya dapat digantikan oleh komputer. Dengan demikian dapat memberikan keuntungan dalam efisien waktu dan tenaga.
Penghematan waktu dan kecepatan penyajian informasi akibat penerapan teknologi informasi tersebut akan memberikan kesempatan kepada guru dan pengurus sekolah untuk meningkatkan kualitas komunikasi dan pembinaan kepada siswa. Dengan demikian siswa akan merasa lebih dimanusiakan dalam upaya mengembangkan kepribadian dan pengetahuannya.
Sebagai contoh yang paling utama adalah sistem penjadwalan yang harus dilakukan setiap awal semester. Biasanya membutuhkan waktu lama untuk menyusun penjadwalan, Dengan SISKO dapat selesai dalam waktu singkat. Untuk mempermudah bagian administrasi kurikulum sekolah, SISKO menyediakan fasilitas istimewa yang merupakan inti dari sistem kurikulum sekolah yaitu membantu dalam pembuatan penjadwalan mata pelajaran sekolah yang dapat diproses tidak lebih lama dari 10 menit. Administrator hanya akan memasukkan kondisi dari masing-masing guru yang akan mengajar baik itu dalam 1 minggu seorang guru dapat mengajar berapa jam, selain itu dapat juga melakukan pemesanan tempat dan penempatan hari libur masing-masing guru dalam 1 minggu masa mengajar. Setelah semua kondisi dimasukkan, sistem akan memproses semua data tersebut sehingga menghasilkan jadwal yang optimal dan dapat langsung dipakai karena sistem akan mendeteksi sehingga tidak akan ada jadwal yang bertumpukan satu dengan yang lainnya.
Setelah semua kondisi dimasukkan, sistem akan memproses semua data tersebut sehingga menghasilkan jadwal yang optimal dan dapat langsung dipakai karena sistem akan mendeteksi sehingga tidak akan ada jadwal yang bertumpukan satu dengan yang lainnya. Setelah permasalahan penjadwalan dapat ditangani dengan baik, hal yang tidak kalah pentingnya adalah memasukkan data siswa (penilaian siswa).
Program SISKO telah menyediakan fasilitas untuk penanganan penilaian siswa yang secara langsung memasukkan nilai ke dalam raport dan siap dicetak. Untuk sistem penilaian siswa, yang dapat melakukan pengisian hanya Guru yang mengajar mata pelajaran. Sistem penilaian telah disesuaikan dengan KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi) sehingga masing-masing guru dapat memasukkan deskripsi narasi dari mata pelajaran. Untuk menampilkan data penilaian dapat disesuaikan kembali dengan kebijaksanaan dari masing-masing lembaga pendidikan apakah ingin menampilkan data nilai akhir siswa maupun menampilkan data nilai siswa setiap kali mengadakan test ataupun tugas tertentu.
Selain Modul untuk penjadwalan dan Modul Penilaian siswa, SISKO juga memberikan fasilitas untuk bagian administrasi keuangan sekolah dalam hal pembayaran SPP siswa. Bagian administrasi dapat langsung mengecek siapa siswa yang mempunyai tunggakan SPP dan untuk detail histori pembayaran SPP dari masing-masing siswa dapat dicetak seperti mencetak buku tabungan di bank sehingga mempermudah pekerjaan pihak administrasi keuangan. Administrasi keuangan dapat langsung melakukan pengaturan data pembayaran masing-masing siswa sesuai dengan kebutuhan dan dapat diubah sewaktu-waktu apabila ada kenaikan pembayaran SPP. Apabila siswa tersebut akan melakukan pembayaran, petugas dapat langsung memasukkan data. Hal sama juga dapat dilakukan untuk Data pembayaran Sumbangan Sukarela dan Tabungan Karyawisata.
Dengan berbagai fasilitas yang ada di program SISKO, penerapan SISKO sangat menguntungkan lembaga pendidikan dalam upayanya untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas kinerja lembaga pendidikan. Oleh karena itu SISKO diciptakan untuk memberikan kemudahan bagi lembaga pendidikan dalam :
• Penyimpanan dan pengolahan data siswa, staf, keuangan, dan asset sekolah
• Analisis perkembangan kinerja siswa, guru, dan sekolah dari periode ke periode
• Penyediaan informasi tentang perkembangan studi siswa kepada Guru Wali dan Orang Tua
• Penyediaan informasi untuk mendukung pelaporan kepada Kantor Dinas Pendidikan yang terkait dengan Ujian Akhir Nasional (UAN) dan Badan Akreditasi Sekolah (BAS)
• Pengolahan data menjadi informasi untuk mendukung pengambilan keputusan
• Pengelolaan perpustakaan termasuk katalogisasi buku-buku, penelusuran buku, proses peminjaman dan pengembalian buku, status keberadaan buku, dan penetapan jumlah denda.
 
Penyediaan komunikasi yang berupa instant messaging kepada stakeholder-nya dengan memanfaatkan teknologi internet dan teknologi komunikasi nirkabel.


Sumber: http://www.kamadeva.com/index-menu-news-newsid-tiduniapendidikan.htm

Poster Sains Untuk Sekolah

Masih berkaitan dengan tulisan-tulisan tentang poster sains. Sebuah ide kemudian muncul setelah melihat-lihat beberapa poster sains yang saya temukan dari internet. Ide tersebut adalah pemanfaatan poster sains untuk pembelajaran sains di sekolah. Yah, poster sains untuk menanamkan konsep-konsep sains untuk siswa.
Walaupun memang harus diakui dewasa ini dunia digital sudah begitu maju, namun ada beberapa sisi yang tetap harus diakui merupakan kelemahan untuk dunia digital. Di antaranya adalah perangkat yang dibutuhkan umumnya mahal, membutuhkan sumber energi listrik, ketersediaan sinyal (untuk koneksi internet), kenyamanan dalam mengakses yang dibatasi oleh dimensi perangkat yang umumnya mudah dibawa tapi kecil atau cukup besar tapi boros sumber energi, serta efisiensi waktu.
Poster sains sebagai sumber belajar cukup mudah penggunaannya dan praktis. Cukup sediakan posternya kemudian cari tempat yang cocok, mudah dijangkau oleh siswa untuk dibaca untuk menaruhnya. Tidak butuh waktu yang lama untuk menunggu perangkat digital melakukan bootingload bahan pelajaran. Hemat energi listrik serta tidak mahal. Poster juga tidak membuat mata bekerja keras hanya untuk membaca setiap hurufnya dibandingkan dengan membaca di depan layar monitor atau di layar perangkat yang berukuran kecil, terkecuali poster tersebut tidak berada di tempat yang cocok seperti berada di luar kelas yang terkena sinar matahari sehingga menyilaukan mata. Kelemahan terbesar poster adalah membutuhkan tempat yang banyak, terlebih ukuran poster tidak sekecil selebaran. atau untuk menunggu perangkat digital me-
Baiklah, kita akhiri perbincangan mengenai plus-minus poster sebagai sarana belajar. Selanjutnya adalah bagaimana mendapatkan poster sains. Ada beberapa cara yang bisa ditempuh. Di bawah ini adalah di antaranya.
  • Mengambil poster-poster yang tersebar luas secara gratis di internet kemudian mencetaknya secara sendiri-sendiri sesuai dengan kebutuhan masing-masing pihak yang berkepentingan. Untuk memperbanyak poster yang didapatkan softcopy-nya dari internet, selain diusahakan sendiri oleh pihak sekolah, bisa juga dengan menggandeng pihak lain, semisal Dinas Pendidikan setempat/pusat atau pihak percetakan. Dengan bekerjasama dengan pihak percetakan, mungkin saja poster hasil cetakan bisa dijual lagi ke pihak lain. Hm..., salah satu usaha produktif yang patut dicoba. Tentunya tetap memperhatikan lisensi dari tiap poster. :)
  • Selain mengambil poster-poster dari internet, langkah lain adalah melakukan translasi/adopsi poster yang terdapat di internet. Tentunya setiap poster yang beredar di internet tidak semuanya berbahasa Indonesia. Untuk efektifnya pembelajaran, penggunaan bahasa yang dipahami tentunya tidak boleh diabaikan. Menggunakan bahasa asing, terlihat 'keren' tapi bisa jadi tidak efektif. Selain kendala bahasa, beberapa materi yang berada di poster yang beredar di internet tidak semuanya diperlukan bahkan ada yang harus ditambahkan atau dikurangi atau disesuaikan. Proses adaptasi bisa jadi dibutuhkan. Adaptasi tingkat materi yang harus disesuaikan untuk tiap tingkat sekolah. Walaupun terlihat 'hebat', tapi materi perguruan tinggi tingkat lanjut tetap saja kurang bermanfaat bila diberikan di tingkat menengah pertama. :)
  • Nah, cara ketiga adalah dengan murni membuat poster dari nol. Idenya bisa didapatkan dari buku-buku pelajaran yang seringkali diajarkan. Dengan begini, si pengajar mendapatkan beberapa keuntungan. 1) Keuntungan untuk mempelajari isi materi sebelum diajarkan, 2) Keuntungan untuk membuat poster dengan bahasa sendiri yang bahasanya sesederhana mungkin untuk dapat dicerna peserta didik, 3) Keuntungan untuk keterampilan membuat poster sendiri. :) Ayo, membuat poster sendiri...!!!
  • Cara terakhir adalah memesan poster yang sudah siap pakai dari penerbit poster. Apakah penerbitnya berasal dari dalam negeri atau dari luar negeri. Namun cara terakhir ini kurang bisa diperoleh bila diusahakan dari dalam negeri. Selama ini mengunjungi tempat-tempat penjualan alat-alat belajar, jarang sekali dan bahkan tidak pernah menjumpai poster-poster yang inovatif dan kreatif dalam desain dan isi poster tersebut. Hm... mungkin juga karena saya yang kurang banyak jalan-jalan. Hehehe... :)
Dari sisi materi, menurut saya poster bisa dibagi dua, yaitu 1) poster yang berisi materi-materi pokok pelajaran atau 2) poster yang berisi pengetahuan-pengetahuan populer/tambahan. Dan menurut pengalaman pribadi, poster yang berisi pengetahuan populer/tambahan lebih banyak menarik minat pembaca dibanding materi pokok. Alasannya bisa jadi materi pokok sudah biasa didapatkan di buku-buku teks. Sedangkan pengetahuan populer, belum tentu disertakan di semua buku teks.


Sumber: http://sutriadi.co.cc/?q=poster.sains.sekolah